Mahasiswi MIK melakukan riset tesis di Smithsonian Institut, USA



Eka Maya Kurniasih


Setelah tiga tahun menjadi Junior Research di salah satu pusat kajian kelautan di Denpasar, Bali. Tujuan saya berikutnya adalah untuk meraih gelar master di pendidikan tinggi dan memulai karir penelitian di bidang ilmu kelautan. Sebagai kandidat untuk gelar master di Magister Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro, saya berusaha untuk meningkatkan pemahaman tentang keanekaragaman organisme laut dengan pendekatan genetik. Magister ilmu kelautan UNDIP sendiri telah memiliki mata kuliah kompeten yang sejalan dengan apa yang sebelumnya saya mumpuni seperti marine molecular ecology dan biologi populasi, serta laboratorium genetik yang juga sudah berkembang.

Pengalaman saya dengan penelitian genetik mencakup spektrum yang luas di bidang ilmu kelautan yang telah mengajarkan saya bagaimana merancang dan melakukan eksperimen informatif. Saya juga terlibat dalam proyek internasional yang disebut PEER (Partnership in Enhanced Engagement in Research) dibawah bimbingan Prof. Ambariyanto yang berkolaborasi dengan Smithsonian Institution, dibawah pengawasan Dr. Chris Meyer. Proyek ini telah memberikan kesempatan kepada saya untuk melakukan penelitian thesis saya sekaligus mengikuti program magang di National Museum of Natural History, Departement Invertebrate Zoology, Smithsonian Institution selama 4 bulan pada bulan Juni-September 2017.

Kegiatan laboratorium yang saya lakukan adalah DNA Barcoding salah satu metode yang telah banyak digunakan dalam mengungkap kekayaan keanekaragaman hayati berdasarkan genetika. Saya menerapkan metode ini untuk menganalisis keanekaragaman Dekapoda (kepiting, udang, dll.) yang hidup di karang mati di perairan Indonesia. Saya juga berkesempatan mempelajari metabarcoding dan Next Gen Sequencing (NGS) salah satu tools genetika yang terus berkembang hingga saat ini. Saya mulai belajar dari bagaimana preservasi sample yang baik untuk mencegah terjadinya kerusakan sample, database sample, pengerjaan sampel di laboratorium seperti ekstraksi dengan AutoGen 965, PCR, elektroforesis, sequencing, hingga analis data.

            Selama di Smithsonian Institut saya bertemu banyak orang hebat dari segala umur, kebangsaan dan latar belakang. Mereka memiliki passion di bidang masing-masing terutama di bidang genetik molekular kelautan yang luar biasa, membuat saya semangat untuk terus belajar. Selama disana saya merasa ini adalah waktu yang berharga. Tidak hanya sebtas kegiatan di laboratorium saya juga memahami mekanisme di balik eksperimen dan sebagai hasilnya saya dapat menginformasikan sebuah keputusan dan mandiri dalam pekerjaan. Bekerja di lingkungan internasional dan di lingkungan laboratorium standar A.S mendesak saya untuk bekerja sebagai peneliti independen, dapat menyelesaikan pertanyaan dan juga mampu berkomunikasi dengan ilmuwan asing. Pengalaman penelitian ini telah mempersiapkan saya untuk dapat tampil sebagai peneliti muda profesional, memiliki keterampilan interpersonal dan mampu memahami masalah serta menyelesaikannya dengan pendekatan secara luas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *